Categories
Perikanan

Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

Selain di kolam jaring, ikan lele bisa didederkan di kolam tanah, kolam tembok, atau kolam yang dindingnya tembok dan dasarnya tanah. Tidak ada ketentuan khusus mengenai luas kolam. Untuk memudahkan pengelolaan, sebaiknya kolam berbentuk empat persegi panjang. Kolam yang baik harus memiliki saluran pemasukan dan pengeluaran air. Di bagian tengah dasar kolam dilengkapi kamalir atau saluran tengah yang berfungsi untuk memudahkan penangkapan benih saat dipanen.

Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

 

Persiapan Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

Sebelum benih ditebarkan, dilakukan persiapan terlebih dahulu sebagai berikut.

  • Kolam dikeringkan beberapa hari untuk memudahkan pengolahan dan membunuh bibit-bibit penyakit yang ada di dalam kolam.
  • Pemupukan dan pengapuran kolam. Agar pakan alami berupa plankton tumbuh, kolam dipupuk menggunakan kotoran ayam sebanyak 200-300 gram/m², TSP dan urea masing-masing sebanyak 10 gram/m² dan kapur pertanian sebanyak 25-30 gram/m² atau disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan. Tujuan pemupukan dan pengapuran selain untuk menaikkan tingkat keasaman tanah (pH), juga dapat membunuh bibit-bibit penyakit.
  • Cara pemupukan dan pengapurannya adalah dengan menebarkan pupuk dan kapur secara merata ke seluruh permukaan dasar kolam.
  • Memasang saringan di pintu pemasukan dan pengeluaran air.
  • Tujuannya untuk menjaga agar tidak ada hama yang masuk ke dalam kolam dan agar benih ikan lele tidak kabur atau keluar dan kolam.
  • Mengisi air. Kolam diisi air setinggi 40-50 cm dan dbiarkan selama 7 hari agar pakan alami tumbuh dengan sempurna.

 

Penebaran Benih Pada Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

Penebaran benih dilakukan setelah 7 hari dari pemupukan atau saat pakan alami telah tersedia. Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari dengan kepadatan 500-700 ekor/m² berukuran 1-3 cm per ekornya. Penebaran harus dilakukan dengan hati-hati agar benih ikan lele tidak mengalami stres. Jika benih yang akan ditebarkan berasal dari tempat yang jauh, sebelum ditebarkan harus diadaptasikan terlebih dahulu sebagaimana yang dilakukan pada penebaran benih yang didederkan di kolam jaring.

 

Pemeliharaan Benih Pada Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

Kualitas air kolam pendederan perlu dijaga, cara paling efektif adalah penggunaan air mengalir sistem paralon secara kontinyu dengan debit air tidak terlalu besar. Pada budidaya ikan lele pendederan, kualitas air tidak terlalu cepat menurun. Hal ini dikarenakan ukuran ikan masih sangat kecil, sehingga kotoran yang ditimbulkan belum begitu banyak.

Selama pemeliharaan lele diberi pakan tambahan untuk mempercepat proses pertumbuhan. Pakan tambahan berupa tepung pelet sebanyak 35% dari jumlah total benih yang dipelihara. Pakan diberikan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, sore, dan malam hari. Agar pakan lebih efisien dan efektif, sebaiknya pemberiannya dilakukan dengan cara membiasakan di satu atau dua tempat raja, misalnya di bagian pojok kolam.

Untuk memperkecil mortalitas atau kehilangan benih, selama pemeliharaan harus dilakukan pengontrolan terhadap serangan hama dan penyakit. Hama yang umum menyerang ikan lele berupa belut, ular, atau ikan gabus. Tindakan pencegahan penyakit cukup dengan menjaga kualitas dan kuantitas air kolam, yakni dengan menghindari pemberian pakan yang berlebihan. Karena pakan yang berlebih akan menumpuk di dasar kolam dan bisa membusuk yang akhirnya menjadi salah satu sumber penyakit.

 

Pemanenan Benih Ikan Lele

Setelah dipelihara selama 2-3 minggu, benih ikan lele siap dipanen. Pemanenan benih ikan lele sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu rendah. Pemanenan dimulai dengan mempersiapkan alat-alat panen serta tempat penampungan benih hasil panen. Setelah semua peralatan siap, kolam dikeringkan secara perlahanlahan sampai air yang tersisa hanya tinggal di kamalir. Dalam keadaan ini, benih-benih ikan lele akan terkumpul di dalam kamalir. Selanjutnya dengan alat tangkap (sair), benih ditangkap dan ditampung di dalam wadah yang telah disediakan. Benih disortir atau dipisahkan sesuai dengan ukurannya. Rata-rata benih telah mencapai ukuran 5-8 cm per ekornya. Selanjutnya benih dapat dipelihara di tempat lain (pembesaran) atau langsung dijual kepada konsumen. Mortalitas selama pemeliharaan lebih kurang 25-30% dari jumlah benih yang ditebarkan.

Categories
Perikanan

Budidaya Ikan Lele Pendederan Menggunakan Kolam Jaring

Budidaya Ikan Lele Pendederan Menggunakan Kolam Jaring

Pendederan benih ikan lele di jaring apung hanya dilakukan untuk pendederan pertama. Hal ini disebabkan benih yang dipelihara masih berukuran kecil dan belum membutuhkan tempat yang lebih luas.

Keuntungan yang diperoleh jika ikan lele didederkan di dalam jaring sebagai berikut:

Mortalitas atau tingkat kehilangan benih cukup kecil, hanya 15-20% dari total yang dipelihara. Hal ini disebabkan selama pendederan biasanya ikan lele terhindar dari serangan hama.
Teknik pemeliharaan cukup mudah dan praktis. Misalnya pemanenannya cukup dengan mengangkat beberapa bagian atau sudut jaring. Pada saat jaring diangkat, benih-benih ikan lele sudah terkumpul di salah satu sudut jaring, sehingga mudah ditangkap atau dipanen menggunakan sair.

Jaring yang digunakan adalah jaring yang bermata lebih kecil daripada benih ikan lele yang akan dipelihara. Tujuannya agar benih ikan lele tidak kabur atau lobos keluar jaring. Jaring terbuat dari kain trilin berbahan lembut yang biasanya digunakan para petani sebagai tempat untuk penetasan telur ikan mas (hapa). Jaring tempat pendederan benih ikan lele dapat dibeli di toko yang menjual alat-alat perikanan. Jaring tersebut masih berupa kain dalam bentuk lembaran. Karenanya, perlu dijahit terlebih dahulu menggunakan benang nilon agar jaring kuat dan tahan lama. Ukuran jaring disesuaikan dengan jumlah benih ikan lele yang akan didederkan atau disesuaikan dengan luas kolam tempat jaring tersebut akan diletakkan. Bentuk jaring sebaiknya empat persegi panjang dengan ketinggian sekitar 50-60 cm. Di setiap sudut jaring diberi tali untuk mengikatkan jaring ke tiang di kolam, agar jaring terbentang dengan sempurna.

Pemasangan Jaring Tempat Benih Ikan Lele

Sebelum jaring dipasang, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan patok atau tiang untuk mengikat jaring. Untuk jaring yang berukuran 1,5 x 4 x 0,5 m cukup disediakan patok sebanyak 4 buah. Patok yang digunakan berupa bambu atau kayu yang ditancapkan ke dasar kolam dengan jarak antara satu patok dan patok lainnya disesuaikan dengan ukuran jaring. Patok harus ditancapkan tegak lurus dan kokoh agar mampu menahan beban jaring. Penempatan jaring sebaiknya di pinggir atau tepi kolam guna memudahkan pemeliharaan.

Jaring harus dipastikan dalam keadaan bersih dan tidak ada yang berlubang atau bolong akibat bekas gigitan tikus atau binatang lain. Semua tali yang terdapat di sudut-sudut jaring diikat ke tiang atau patok yang telah disiapkan. Ketinggian air di dalam jaring diusahakan hanya 30-50 cm. Hal ini disebabkan ikan lele yang akan dipelihara ukurannya masih kecil dan belum memerlukan air yang dalam.

Penebaran Benih Ikan Lele

Penebaran benih dilakukan setelah jaring terpasang dengan sempurna. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu masih rendah. Maksudnya agar benih ikan lele tidak stres. Benih yang akan dipelihara bisa berasal dari hasil pembenihan sendiri atau dari tempat lain. Jika benih berasal dari hasil kegiatan pembenihan sendiri, saat penebaran tidak perlu lagi dilakukan proses adaptasi, karena kualitas air di tempat tersebut tidak jauh berbeda. Namun, jika benih ikan lele yang akan ditebarkan berasal dari tempat lain, sebelum penebaran perlu dilakukan adaptasi agar benih tidak stres. Proses adaptasi bertujuan untuk menyesuaikan kondisi air, yakni antara air yang ada di dalam wadah pengangkutan dan air yang ada di dalam jaring.

Cara penebaran untuk proses adaptasi benih ikan lele cukup mudah. Benih ikan lele yang masih berada di dalam wadah pengangkutan dibiarkan terapung-apung di atas air selama 5 menit. Selanjutnya ditambahkan air dari kolam jaring ke wadah pengangkutan sedikit demi sedikit. Dengan cara ini diharapkan kualitas air yang ada di dalam wadah pengangkutan tersebut akan sama dengan yang ada di kolam jaring. Kemudian benih ikan lele akan keluar dengan sendirinya dari dalam wadah pengangkutan ke dalam kolam jaring. Jumlah benih ikan lele yang ditebarkan untuk kolam jaring yang berukuran 1,5 x 4 x 0,5 m berdasarkan pengalaman para petani yang telah berhasil, bisa mencapai 10.000-15.000 ekor.

Pemeliharaan Benih Ikan Lele

Kegiatan pemeliharaan merupakan kegiatan inti dari pendederan. Selama pemeliharaan, benih harus diberi pakan tambahan. Karena berada di dalam wadah yang terbatas (kolam jaring), benih ikan lele tidak mendapat pakan alami. Pakan tambahan yang cocok adalah pelet dalam bentuk tepung, sebanyak 3-5% dari berat total benih ikan lele yang dipelihara. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari, yakni pada pagi, sore, dan malam hari. Pakan harus disebarkan merata di seluruh permukaan air. Maksudnya agar semua benih mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pakan.

Pengontrolan kolam jaring harus dilakukan setiap satu minggu sekali. Pengontrolan dimaksudkan untuk menjaga jaring tidak sampai berlubang atau sobek akibat digigit binatang air, seperti kepiting atau binatang lainnya. Jika jaring berlubang, benih yang dipelihara akan kabur atau keluar dari dalam kolam jaring. Dalam hal ini, harus dihindari serangan hama, seperti katak atau ular.

Pemanenan Benih Ikan Lele

Benih ikan lele dipelihara di tempat pendederan selama 2-3 minggu atau disesuaikan dengan kebutuhan. Pemanenan dilakukan dengan mengangkat salah satu bagian jaring. Dengan cara ini benih ikan lele dipastikan akan terkumpul di sisi lain. Selanjutnya benih ikan lele ditangkap menggunakan sair secara hati-hati dan ditampung dalam wadah tertentu atau di dalam jaring berukuran kecil. Benih ikan lele selanjutnya disortir atau dipilih sesuai dengan ukuran badannya. Benih yang berukuran besar dipisahkan dari yang berukuran kecil. Benih yang diambil adalah benih yang berukuran sama, baik panjang maupun besarnya. Benih-benih tersebut kemudian didederkan (pendederan kedua) di kolam atau tempat lain. Jumlah benih yang dipanen atau tingkat kelangsungan hidup rata-rata berkisar 80-90% dari total benih yang dipelihara. Dengan kata lain, mortalitas atau tingkat kematian dan kehilangan benih berkisar 10-20%.

Categories
Perkebunan

Fungsi Bagian Tanaman Bonsai

Organ-organ tanaman yang berada di atas tanah tidak dapat dipisahkan dari organ-organ yang berada di dalam tanah. Akibat pertumbuhan perakaran akan berdampak pada pertumbuhan batang pokok, dahan, dan sebagainya.

Fungsi Bagian Tanaman Bonsai

Fungsi daun pada bonsai

Daun merupakan pusat untuk menghasilkan zat karbohidrat, protein, dan lemak. Ketiga zat ini dibentuk melalui proses fotosintesis. Yang diperlukan dari proses tersebut adalah:

hijau daun yang sehat,
sinar matahari,
udara yang mengandung zat asam arang (CO2), dan
air.

Hijau daun agar dapat berfungsi dengan baik memerlukan nitrogen (N) dalam bentuk zat nitrat yang larut di dalam air. Bila kekurangan zat N, daun kelihatan menguning.

Air dan matahari dalam proses fotosintesis merupakan faktor penentu keberhasilan. Ketiga zat tersebut di atas merupakan zat makanan bagi bagian tanaman di atas tanah maupun untuk perakaran. Tanpa hasil fotosintesis akar akan menderita. Mula-mula busuk dan akhirnya mati. Apabila akar mati, bagian yang di atas tanah secara konsekuen akan ikut mengering.

Selain menghasilkan ketiga zat tersebut, daun masih dapat menghasilkan lain-lain zat, misalnya vitamin B1 yang berfungsi sebagai zat penumbuh akar, berbagai jenis enzim, dan sebagainya.

Khususnya pucuk ranting dapat menghasilkan zat auksin, sejenis hormon nabati yang berfungsi sebagai pendorong pertumbuhan. Hormon auksin ini disalurkan ke arah bawah dan apabila mengumpul pada ketiak-ketiak daun yang ada kuntumnya, maka hormon ini akan berfungsi sebagai zat penghambat tumbuh yang dalam Bahasa Belanda disebut remstof. Remstof ini akan aktif kembali bila produksi auksin dari pucuk terhenti, misalnya karena dipangkas.

Dari uraian yang singkat tersebut dapat disimpulkan, bahwa bila pertumbuhan pucuk senantiasa terhadang sebagai akibat dari pemangkasan, maka tanaman akan sangat kekurangan hormon pertumbuhan. Perakarannya pun terbatas. Namun kehidupannya tetap bertahan karena tanaman masih dapat menghasilkan vitamin B1 dari daun yang sudah tua.

Pengendalian produksi hormon auksin ini merupakan salah satu faktor untuk memperlambat pertumbuhan tanaman sehingga tanaman menjadi kerdil.

Selain itu, daun pada tanaman bonsai juga berfungsi sebagai pembentuk nilai seni, sehingga pada saat melakukan pemangkasan daun juga hurus memperhatikan keindahan tanaman.

Fungsi akar pada bonsai

Fungsi akar yang utama adalah untuk menyerap zat-zat mineral yang larut dalam air dari tanah. Zat-zat mineral ini pada umumnya diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Air yang diserap bersama zat mineral diperlukan untuk fotosintesis. Tanaman yang kekurangan air akan kelihatan layu, terutama bagian-bagian yang masih relatif muda. Zat hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman adalah nitrogen (N), fosfat (P), kalium (K), kalsium (Ca), besi (Fe), magnesium (Mg), Sulfur (S)dan sebagainya. Zat ini harus berada di dalam media dengan jumlah yang memadai. Kekurangan zat-zat tersebut dapat dipenuhi melalui pemupukan. Sewaktu ranting aktif, umumnya akar beristirahat. Maka dalam memindahkan tanaman dari pot yang lama ke pot yang baru sebaiknya sewaktu akar sedang aktif. Karena saat akar aktif tidak ada kuntum yang tumbuh dan ranting-ranting barupun tidak terbentuk.