Categories
Perikanan

Budidaya Ikan Sidat

SIDAT (Anguillidae)

Sidat merupakan jenis ikan yang memiliki bentuk fisik menyerupai belut. Sidat memiliki warna kulit coklat kehitam-hitaman dan agak memutih pada bagian perutnya. Sidat juga punya jari-jari sirip yang lunak dan jelas. Berbeda dengan belut, sidat memiliki sirip dada, punggung dan skip dubur yang sempurna. Tubuh bersisik kecil-kecil membujur, berkumpul dalam kumpulan-kumpulan kecil, yang masing-masing kumpulan terletak miring pada sudut siku terhadap kumpulan-kumpulan di sampingnya. Karena adanya jari-jari sirip yang lunak inilah orang awam lebih suka menyebut sidat sebagai belut bertelinga daripada nama sebenarnya.

Budidaya Ikan Sidat

 

Klasifikasi Ikan Sidat

Berikut klasifikasi sidat :

Kelas: Pisces, Subkelas: Teleostei, Ordo: Apodes, Famili: Anguillidae

Di Indonesia terdapat kurang lebih tujuh jenis sidat. Dan dari ketujuh jenis sidat tersebut yang paling luas penyebarannya adalah Anguilla marmorata, sedang yang paling sempit daerah penyebarannya adalah Anguilla borneensis (hanya terdapat di Kalimantan Timur dan Sulawesi).

Sidat dikenal sebagai pemangsa yang ganas sebagai ikan air tawar. Dibanding belut, yang suka memangsa berbagai jenis ikan air tawar, sidat jauh lebih ganas karena akan memakan apa saja yang hidup di air. Habitat alaminya adalah di lubuk-lubuk sungai, rawa-rawa dan danau-danau yang berair tawar. Sidat dewasa bisa bertahan sampai bertahun-tahun di perairan tersebut. Tapi usianya bila telah mendekati delapan tahun, sidat akan berenang terus menerus dari daerah pedalaman ke hilir sebagai sidat perak untuk beruaya ke laut dalam kembali.

Di berbagai daerah nama sidat bisa berbeda-beda. Beberapa nama yang dilekatkan antara lain : ikan uling, ikan moa, ikan lubang, ikan lumbon, ikan larak, ikan pelus, ikan gateng, ikan lembu, ikan denong, ikan mengaling, ikan Tara, ikan luncah dan sebagainya. Di Indonesia terdapat tak kurang enam jenis sidat, tapi cuma dua macam raja yang sering ditangkap nelayan. Yakni sidat kembang (Anguilla mauritiana) dan sidat anjing (Anguilla bicolor). Kedua sidat ini banyak menghuni aliran-aliran sungai yang jernih dan berbatu-batu. Kedua ikan ini suka berdiam dalam lubang pada cadas-cadas atau di antara sela-sela batu.

Ikan sidat bisa dipancing dengan menggunakan umpan katak, anak ayam atau ikan-ikan kecil. Mata pancingnya harus bestir dan tali yang dipakai harus kuat (jangan dibuat dari benang), karena gigi-gigi ikan sidat sangat tajam dan kuat. Di daerah Pulau Jawa bagian selatan, ikan sidat banyak bersembunyi dan bersarang di bibir tebing sungai yang curam atau lubuk-lubuk sungai yang merupakan gua. Sidat raksasa yang berumur tua ini panjangnya bisa mencapai 90 sampai 150 cm, dengan diameter tubuh tak kurang dari 7,5 cm.

 

Ikan Sidat Belum Bernilai Ekonomi

Sidat masih tergolong Ordo Apoda. Ordo ini masih ada persamaannya dengan bangsa ular, yaitu tidak mempunyai anggota gerak. Dalam Bahasa Latin perkataan “apoda” berasal dari kata “pods” yang berarti kaki, dan “a” yang berarti ingkar atau tidak. Jadi apoda berarti tidak berkaki atau tanpa anggota gerak. Dan ikan yang masih tergolong Ordo Apoda pergerakannya sangat tergantung pada liak-liuk tubuhnya yang licin panjang. Ikan Ordo Apoda juga tidak bersisik. Tapi jenis sidat masih punya sisik-sisik kecil berbentuk panjang, dan tersusun saling tegak lurus pada poros panjangnya. Susunan-susunan sisik ini biasanya membentuk gambar mozaik seperti anyaman bilik. Ikan dari Ordo Apoda lebih banyak yang hidup di laut. Misalnya ikan remang, ikan cunang dan ikan ular boro. Apoda yang merupakan ikan darat cuma belut saja. Sidat meskipun dibesarkan di perairan air tawar. Tapi setelah dewasa dan mau berpijah ikan ini kembali beruaya ke laut dalam.

Ruaya pada ikan ini merupakan masalah yang mendasar, karena merupakan salah satu mata rantai siklus hidupnya dan tidak terlepaskan dari rantai sebelum dan sesudahnya. Yang dimaksud dengan ruaya adalah perpindahan (migrasi) pada ikan untuk mencari tempat hidup atau suasana yang lebih cocok bagi kepentingan ikan bersangkutan. Ruaya ini dilakukan antara lain karena :

  • Ingin mengadakan pemijahan
  • Mencari makanan dan menuju daerah pembesaran
  • Mendapatkan lingkungan hidup baru karena lingkungan hidup yang semula sudah kurang cocok, atau karena sudah terjadi perubahan ekologis pada lingkungan hidupnya yang lama.

Pada sidat (ikan air tawar) ruaya dimaksud untuk mencari tempat pemijahan yang sesuai dan menguntungkan bagi perkembangan telur dan larvanya setelah menetas. Ruaya ini dilakukan dengan berusaha kembali ke daerah asal ketika dilahirkan untuk mengadakan reproduksi (pemijahan). Sebelumnya ikan ini membesar dan hidup dewasa di sungai-sungai, rawa-rawa, dan danau di daerah pedalaman. Dan setelah telurnya menetas menjadi larva, mereka akan berenang menuju sungai-sungai di daerah daratan. Jadi laut bebas (dalamnya kurang lebih 56.000 m) cuma dijadikan sebagai tempat pemijahan saja.

Bagi sidat Eropa yang hidup di sungai-sungai benua tersebut, sewaktu memijah akan berenang menuju Laut Sargasso, dan biasanya dilakukan pada bulan Desember. Perjalanan dari sungai ke laut dilakukan pada malam hari. Selama melakukan perjalanan ikan ini tidak makan apa-apa. Sehingga sewaktu sampai di laut tubuhnya akan berubah kurus, mata membesar, dan warna kulitnya pun berubah. Karena menyusutnya tubuh, kandungan telur lalu kelihatan membengkak besar.

Induk-induk sidat baru bisa matang kelamin, berpijah, dan bertelur di laut yang dalamnya lebih dari 6.000 meter. Berbeda dengan sidat Amerika dan Eropa, yang memilih tempat berbiaknya di Laut Sargasso(Atlantik), maka sidat Jawa dan Sumatera berpijah di Samudera Hindia. Sementara sidat Sulawesi di Lautan Teduh (Pasifik). Selanjutnya larva-larva yang menetas ini akan dibawa ombak menepi ke pan-tai, kemudian ramai-ramai memasuki muara sungai yang payau sebagai impun lubang. Untuk seterusnya akan berenang mudik memasuki sungai tawar, rawa-rawa, danau-danau sebagai ikan buas dan liar. Impun dewasa inilah yang selanjutnya kita kenal sebagai sidat.

Sampai saat ini usaha pemeliharaan sidat baru dilakukan di negara tertentu saja. Di banyak negara budidaya ikan sidat belum bisa dilakukan karena ikan sidat tidak bisa dipijahkan. Tapi di Laboratorium Freshwater Fishpropagation di Universitas Hokkaido (Jepang) ikan sidat ini sudah berhasil diternakkan dalam kolam, berkat diketemukannya hormon ekstrak kelenjar hipofisa yang berasal dari ikan Salmon sebagai donor. Hormon tersebut disuntikkan pada induk sidat yang sudah matang telur di bak pemeliharaan. Suntikan hormon ini telah membantu mendorong kegiatan kelenjar kelamin induk sidat betina yang disuntik, sehingga bisa melepaskan telur-telurnya di air kolam.

Selain suntikan hormon, faktor lain yang sangat menentukan suksesnya percobaan menternakkan sidat tersebut adalah keadaan suhu dan air laut yang diisikan pada kolam perkawinan. Suhu yang dituntut harus bisa dipertahankan seperti suhu permukaan air laut di kedalaman 6.000 m, yakni 18° C sampai saat perkawinan selesai. Kemudian setelah telur-telur menetas, air kolam harus bisa dipertahankan pada suhu 23-25°C.

Dengan diketemukannya teknik pemijahan buatan dan rahasia suhu ini di tahun 1974, para peneliti sudah mengetahui batas-batas untuk menyukseskan penetasan telur dan pembesaran benih sidat hasil perkawinan buatan di kolam pemijahan yang masih percobaan tersebut. Hanya saja rumus makanan buatan untuk larva-larva sidat agar bisa tumbuh normal, rupanya masih harus menunggu waktu lagi.

Ikan sidat di Indonesia belum memiliki nilai ekonomi yang berarti. Adanya anggapan masyarakat bahwa makan ikan sidat bisa menimbulkan bencana, merupakan salah satu penyebabnya. Akibatnya potensi sidat di Indonesia yang sebenarnya sangat berlimpah, seakan-akan menjadi mubazir. Padahal sebenarnya di pasaran Amerika, Eropa, Jepang dan Hongkong ikan sidat memiliki potensi yang tinggi sekali sebagai komoditas perikanan. Di sana ikan ini mempunyai harga komersial yang cukup mahal, dan beberapa negara maju telah membudidayakannya secara intensif.

 

Syarat-syarat Pemeliharaan Sidat

Pemeliharaan sidat pada prinsipnya tidak berbeda dengan pemeliharaan ikan-ikan kultur yang lain. Faktor penting yang sangat menentukan keberhasilan pemeliharaan sidat adalah :

1. Air harus bersih dan kaya oksigen

Air yang diperlukan dalam pemeliharaan ikan sidat adalah air bersih dengan jumlah dan volume yang tidak kecil dan dengan kadar oksigen yang terlarut benar-benar tinggi, bahkan harus lebih tinggi dari kadar oksigen yang terlarut dalam air tempat hidupnya di alam bebas.

Dalam kolam pemeliharaan sumber air bisa diperoleh dari aliran sungai, tapi bisa juga mempergunakan air dari sumur artesis. Untuk kolam pemeliharaan dengan daya produksi 20 ton ikan sidat per tahun, diperlukan tak kurang dari 450 m3 air bersih per hari. Dan sebaiknya lokasi pemeliharaan dipilih di tempat-tempat yang banyak dihuni ikan-ikan sidat (misalnya sepanjang pan-tai selatan Pulau Jawa). Banyaknya ikan-ikan liar yang terdapat pada suatu wilayah perairan bisa dijadikan pertanda, bahwa tempat tersebut cukup cocok sebagai tempat pemeliharaannya.

Untuk benih yang telah berukuran 20-30 cm, selain air bersih, bisa juga dipergunakan air keruh (dari aliran sungai), asal tidak tercemar bahan-bahan beracun/pestisida. Air untuk sidat juga harus bersifat basa selain itu lokasi tempat juga perlu diperhitungkan. Pertama jangan merupakan daerah banjir. Kedua, tanah tidak porus atau sarang sehingga air mudah lenyap karena meresap. Sangat bagus kalau pembangunan kolam dipilih tempat yang tanahnya liat berpasir. Ketiga, tempat tersebut juga harus cukup banyak mendapat cahaya matahari guna membantu pertumbuhan plankton sebagai penghasil oksigen dalam air (untuk kolam tergenang). Di samping itu lokasi juga harus cukup mendapat hembusan angin agar setiap saat terjadi aerasi di permukaan kolam.

Lokasi yang paling tepat untuk pemeliharaan sidat adalah daerah di sepanjang pantai. Sedang kolam pemeliharaannya bisa berbentuk kolam tergenang (mirip tambak, kolam empang), lebih baik lagi kalau bisa mengusahakan kolam air deras.

Untuk mengusahakan ikan sidat paling tidak diperlukan empat jenis kolam pemeliharaan, kalau sengaja mau memelihara sejak dari elver (larva) sampai menjadi sidat berukuran konsumsi atau sidat dewasa. Yakni bak elver I, bak elver II, kolam pendederan, dan kolam pembesaran.

 

2. Benih ditangkap di alam

Benih pertama yang diperlukan dalam pemeliharaan ikan sidat adalah benih yang telah mencapai tingkat elver. Persediaan benih yang diperlukan pada tingkat ini sekaligus harus banyak. Karena elver yang dipelihara nantinya tidak semua bisa hidup. Sebagian kecil saja yang bisa mencapai ukuran cukup untuk konsumsi atau dipasarkan.

Elver diperoleh dengan cara menangkap benih di alam (muara sungai). Elver merupakan anak ikan yang sangat halus. Penanganannya sangat membutuhkan kehati-hatian, dan dalam pengumpulannya perlu diusahakan jangan sampai tersentuh tangan. Di Indonesia elver ditangkap nelayan dengan mempergunakan gayung. Seorang pencari elver sehari bisa memperoleh 25 kg atau kurang lebih 87.500 ekor. Alat penangkap lain yang juga sering digunakan nelayan untuk menangkap elver adalah jaring halus. Alat penangkap ikan ini dipasang dengan memotong lebar sungai guna menghadang benih-benih kecil ini yang suka ramai-ramai memasuki muara sungai sewaktu terjadi pasang purnama. Selama dua minggu terus-menerus benih-benih ini aktif berenang di perairan dangkal, dan pada siang hari bersembunyi di lumpur atau di bawah batu.

Ukuran elver hasil tangkapan bermacam-macam. Tidak bisa seragam. Besar kecilnya elver sangat tergantung dari jarak pemijahan sang induk dari muara sungai. Elver yang tertangkap di muara sungai yang letak daerah pemijahannya lebih jauh, ukurannya relatif lebih pendek dan lebih kecil dibanding dengan muara sungai yang jaraknya dengan tempat pemijahan lebih dekat. Di Jawa Barat elver sidat yang berwarna bening ini lebih dikenal dengan nama impun. Ikan-ikan lembut kecil ini banyak ditangkap dan dikumpulkan untuk dijadikan teri tawar, teri asin, dan rengginang. Walau sebenarnya ikan teri merupakan jenis ikan tersendiri.

Menurut Lembaga Penelitian Perikanan Darat (LPPD, 1971) daerah penangkapan elver dan ikan sidat terbesar di muara sungai sepanjang pantai barat dan selatan pulau Sumatera, pantai selatan Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, serta Sulawesi dan Kalimantan yang menghadap ke Banten Selatan, Pelabuhan Ratu (Sukabumi), Tasikmalaya, Ciamis, Pagelaran, Garut, Banjarnegara, Yogya, Kaloran, Pacitan, dan Temanggung. Daerah penangkapan elver yang utama di Jawa Tengah adalah Cilacap, Kebumen, Purworejo dan Kulon Progo.

Elver merupakan benih ikan yang sangat halus. Penanganannya memerlukan perawatan yang rumit. Sebagai tempat penampungan hasil tangkapan (bila mau dipelihara lebih lanjut) bisa dipergunakan peti basah atau jaring halus yang diletakkan pada air mengalir. Selanjutnya setelah terkumpul, cepat-cepat dibawa ke kolam pemeliharaan elver. Pada perusahaan-perusahaan perikanan besar (tentu saja di luar negeri), pengangkutan elver mempergunakan tangki logam bermuka licin dengan diberi tambahan oksigen.

 

3. Makanan pasta untuk elver

Elver yang baru saja ditangkap seringkali ngambeg tak mau makan. Memang menyusahkan. Tapi biasanya seleranya akan kembali muncul setelah hari menjadi gelap. Sedang makanan yang diberikan siapkanlah dalam jumlah yang memadai dan benar-benar baik kualitasnya. Pemberian makanan dalam jumlah cukup dan bermutu akan sangat membantu kepesatan pertumbuhan dan ketahanannya terhadap penyakit/serangan parasit. Begitu pula jenis makanan yang diberikan juga turut menentukan kualitas dan rasa daging sidat yang diusahakan.

Jenis makanan yang baik adalah yang komposisi kimiawinya hampir mendekati komposisi daging ikan sidat itu sendiri. Atau paling tidak komposisi makanan yang diberikan mengandung bahan-bahan yang paling disukai ikan tersebut di alam. Anak sidat yang baru menetas makanannya berupa mikroplankton. Sedang makanan elver berupa anak kepiting, udang, cacing, kerang, siput dan tanaman air yang masih lembut. Makanan sidat dewasa sudah lain lagi, yakni berupa udang dan anak-anak ikan. Paling banyak sidat liar melahap bangsa udang air tawar (Palaemon sp) dan udang dari keluarga Penaidae. Makanan sidat paling sedikit harus mengandung 50% protein hewani.

Dalam pemeliharaan sidat konsumsi oleh petani ikan di Taiwan dan Jepang, secara tradisional makanan sidat diberikan ikan-ikan kecil (bisa segar atau direbus), cacing sutera, cacing tanah, cacing air dan bagian-bagian potongan moluska/siput. Kepiting juga dipergunakan sebagai bahan makanan yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan badan. Tapi dalam usaha pembesaran dewasa ini telah digunakan makanan buatan yang terbuat dari tepung ikan yang dicampur dengan karbohidrat. Makanan buatan ini memiliki komposisi berupa protein 52%, karbohidrat 25%, air 10%, lemak 4%, dan abu 10%. Untuk vitamin kadar komposisinya bisa berbeda-beda, tergantung temperatur air setempat. Apabila suhu air di bawah 18°C diberikan 5% dari berat makanan. Makanan buatan ini diberikan sebanyak 70% dari jatah konsumsi setiap harinya, sedang sisanya (30%) tetap berupa makanan alami yakni daging ikan.

Ikan sidat makan hanya sekali dalam sehari, yaitu sekitar jam 8-10 malam. Banyaknya makanan yang diberikan adalah 5-10% dari seluruh berat ikan yang dipelihara setiap harinya. Ikan sidat akan berselera sekali makannya pada waktu cuaca cerah, udara berangin dan suhu air agak panas. Tapi kalau hari hujan, langit mendung dan udara berangin legang nafsu makan ikan buas ini agak menurun.

Untuk elver makanan diberikan dalam bentuk pasta, terutama untuk elver yang baru ditangkap. Pasta dibuat dari potongan-potongan daging kerang atau cacing yang telah dilumatkan menjadi bubur dan diletakkan pada cawan yang ditaruh di dasar bak. Untuk mengumpulkan para elver di dekat makanan dinyalakan lampu. Elver tidak akan makan bila suhu air di bawah 13°C. Tapi suhu serendah ini jarang sekali terjadi di Indonesia, kecuali di daerah-daerah berpegunungan tinggi. Namun alangkah baiknya kalau setiap kali suhu air dikontrol, siapa tahu kalau-kalau terjadi kelainan.

Makanan pasta diberikan pada elver yang dipelihara pada minggu pertama dan kedua. Setelah waktu makan habis, sisanya harus diambil dan bak harus bersih dari sisa makanan. Makanan elver pada minggu ketiga dan keempat bukan pasta daging lagi, tapi berupa potongan-potongan daging ikan atau cacing yang telah dicincang. Selanjutnya setelah umurnya menginjak minggu kelima dan keenam sudah bisa diberi potongan-potongan daging ikan atau makanan buatan. Apabila diberi makanan buatan, komposisinya harus diolah sedemikian rupa agar cepat diterima elver. Setelah lewat usia enam minggu, elver sudah terbiasa dengan makanan buatan. Dengan aktifitas makan sekitar sepuluh menit saja.

 

4. Suhu menentukan kecepatan tumbuh

Suhu air sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan sidat. Pemeliharaan ikan ini boleh dikatakan berhasil apabila dalam waktu dua tahun sejak penanaman elver bisa dihasilkan ikan sidat konsumsi berukuran 1,5-2 kg per ekor. Temperatur sangat berpengaruh pula terhadap aktivitas makanannya, hingga sidat memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi pada suhu air antara 23-30°C. Pada suhu tersebut aktivitas makan sidat memang paling baik. Di Indonesia di mana temperatur udara di pantai variasinya berkisar antara 25-31°C, perubahan suhu praktis bukan merupakan masalah.

Menurut penelitian para ahli di Jepang dan beberapa negara Eropa sidat jenis Anguilla japonica, Anguilla anguilla dan Anguilla rostrata tidak punya nafsu makan pada suhu air di bawah 12°C. Untuk mengatasinya jelas diperlukan pemanasan buatan di kolam-kolam pemeliharaan. Dan ini memerlukan dana yang tidak kecil.

Di Indonesia pemasaran hasil jelas masih merupakan masalah, karena konsumen ikan sidat dalam negeri boleh dikata belum ada. Tapi sebagai bahan ekspor ikan ini pun bisa bersaing dengan belut, apabila benar-benar diusahakan sebagai ikan komersial. Di Taiwan, Jepang, Korea, dan berbagai negara Eropa sidat telah menjadi menu kesayangan yang berharga tinggi.

Categories
Umum

Budidaya Kutu Air

Pengertian Kutu air (Daphnia sp.)

Kutu air (Daphnia sp.) merupakan krustasea kecil bagian dari zooplankton yang habitatnya di air. Kutu air (Daphnia sp.) bukan merupakan jenis serangga dan tidak hidup sebagai parasit.

Kutu air (Daphnia sp.) berukuran panjang kurang dari setengah milimeter. Pakan utamanya kutu air ini adalah berbagai fitoplankton dan juga sisa-sisa makanan hewan lainnya (detritus).

Budidaya Kutu Air

 

Budidaya Kutu Air

Di samping bisa diperoleh langsung dari alam, kutu air atau Daphnia sp. bisa dikultur atau dibudidayakan. Di alam jumlah kutu air terbatas, bahkan tidak jarang kita mengalami kesulitan dalam mendapatkannya, karena harus berkeliling di pekarangan rumah penduduk yang ada comberannya. Untuk menanggulangi hal tersebut, sebaiknya kutu air dibudidayakan sendiri. Pembudidayaan kutu air sangat mudah.

Budi daya kutu air dapat dilakukan di bak atau kolam tembok atau fibre glass berukuran 1 x 1 x 0,25 m atau disesuaikan dengan luas lahan. Mula-mula bak dikeringkan dan dibersihkan, selanjutnya diisi air bersih yang berasal dari sumur pompa atau sumur timba. Untuk mempercepat proses pertumbuhan kutu air, harus dilakukan pemupukan menggunakan kotoran ayam yang sudah kering sebanyak 2-5 gram/liter air.

Cara pemupukannya dengan menyaring kotoran ayam menggunakan karung atau media lain agar bahan-bahan yang kasar (ampas) tidak masuk ke dalam bak atau wadah. Pupuk yang baik ditandai dengan perubahan warna air menjadi cokelat seperti air teh, setelah pupuk dimasukkan ke dalam bak. Selanjutnya air dibiarkan selama 3-4 hari. Pada hari kelima diinokulasikan (ditebarkan) bibit-bibit Daphnia sp. hasil tangkapan dari alam. Daphnia sp. akan tumbuh dengan cepat dan mencapai puncaknya pada hari ketujuh. Saat itulah kutu air dipanen untuk diberikan kepada benih lele menggunakan scop net halus berukuran mata jaring 1,5-2 mm.

Agar kutu air selalu tersedia, pada air di dalam bak dilakukan pemupukan ulang dengan dosis 1/2 dari jumlah pemupukan pertama. Pemupukan ulang tersebut dilakukan 7-8 hari sekali.

Categories
Perikanan

Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

Selain di kolam jaring, ikan lele bisa didederkan di kolam tanah, kolam tembok, atau kolam yang dindingnya tembok dan dasarnya tanah. Tidak ada ketentuan khusus mengenai luas kolam. Untuk memudahkan pengelolaan, sebaiknya kolam berbentuk empat persegi panjang. Kolam yang baik harus memiliki saluran pemasukan dan pengeluaran air. Di bagian tengah dasar kolam dilengkapi kamalir atau saluran tengah yang berfungsi untuk memudahkan penangkapan benih saat dipanen.

Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

 

Persiapan Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

Sebelum benih ditebarkan, dilakukan persiapan terlebih dahulu sebagai berikut.

  • Kolam dikeringkan beberapa hari untuk memudahkan pengolahan dan membunuh bibit-bibit penyakit yang ada di dalam kolam.
  • Pemupukan dan pengapuran kolam. Agar pakan alami berupa plankton tumbuh, kolam dipupuk menggunakan kotoran ayam sebanyak 200-300 gram/m², TSP dan urea masing-masing sebanyak 10 gram/m² dan kapur pertanian sebanyak 25-30 gram/m² atau disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan. Tujuan pemupukan dan pengapuran selain untuk menaikkan tingkat keasaman tanah (pH), juga dapat membunuh bibit-bibit penyakit.
  • Cara pemupukan dan pengapurannya adalah dengan menebarkan pupuk dan kapur secara merata ke seluruh permukaan dasar kolam.
  • Memasang saringan di pintu pemasukan dan pengeluaran air.
  • Tujuannya untuk menjaga agar tidak ada hama yang masuk ke dalam kolam dan agar benih ikan lele tidak kabur atau keluar dan kolam.
  • Mengisi air. Kolam diisi air setinggi 40-50 cm dan dbiarkan selama 7 hari agar pakan alami tumbuh dengan sempurna.

 

Penebaran Benih Pada Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

Penebaran benih dilakukan setelah 7 hari dari pemupukan atau saat pakan alami telah tersedia. Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari dengan kepadatan 500-700 ekor/m² berukuran 1-3 cm per ekornya. Penebaran harus dilakukan dengan hati-hati agar benih ikan lele tidak mengalami stres. Jika benih yang akan ditebarkan berasal dari tempat yang jauh, sebelum ditebarkan harus diadaptasikan terlebih dahulu sebagaimana yang dilakukan pada penebaran benih yang didederkan di kolam jaring.

 

Pemeliharaan Benih Pada Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

Kualitas air kolam pendederan perlu dijaga, cara paling efektif adalah penggunaan air mengalir sistem paralon secara kontinyu dengan debit air tidak terlalu besar. Pada budidaya ikan lele pendederan, kualitas air tidak terlalu cepat menurun. Hal ini dikarenakan ukuran ikan masih sangat kecil, sehingga kotoran yang ditimbulkan belum begitu banyak.

Selama pemeliharaan lele diberi pakan tambahan untuk mempercepat proses pertumbuhan. Pakan tambahan berupa tepung pelet sebanyak 35% dari jumlah total benih yang dipelihara. Pakan diberikan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, sore, dan malam hari. Agar pakan lebih efisien dan efektif, sebaiknya pemberiannya dilakukan dengan cara membiasakan di satu atau dua tempat raja, misalnya di bagian pojok kolam.

Untuk memperkecil mortalitas atau kehilangan benih, selama pemeliharaan harus dilakukan pengontrolan terhadap serangan hama dan penyakit. Hama yang umum menyerang ikan lele berupa belut, ular, atau ikan gabus. Tindakan pencegahan penyakit cukup dengan menjaga kualitas dan kuantitas air kolam, yakni dengan menghindari pemberian pakan yang berlebihan. Karena pakan yang berlebih akan menumpuk di dasar kolam dan bisa membusuk yang akhirnya menjadi salah satu sumber penyakit.

 

Pemanenan Benih Ikan Lele

Setelah dipelihara selama 2-3 minggu, benih ikan lele siap dipanen. Pemanenan benih ikan lele sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu rendah. Pemanenan dimulai dengan mempersiapkan alat-alat panen serta tempat penampungan benih hasil panen. Setelah semua peralatan siap, kolam dikeringkan secara perlahanlahan sampai air yang tersisa hanya tinggal di kamalir. Dalam keadaan ini, benih-benih ikan lele akan terkumpul di dalam kamalir. Selanjutnya dengan alat tangkap (sair), benih ditangkap dan ditampung di dalam wadah yang telah disediakan. Benih disortir atau dipisahkan sesuai dengan ukurannya. Rata-rata benih telah mencapai ukuran 5-8 cm per ekornya. Selanjutnya benih dapat dipelihara di tempat lain (pembesaran) atau langsung dijual kepada konsumen. Mortalitas selama pemeliharaan lebih kurang 25-30% dari jumlah benih yang ditebarkan.

Categories
Perikanan

Budidaya Ikan Lele Pendederan Menggunakan Kolam Jaring

Budidaya Ikan Lele Pendederan Menggunakan Kolam Jaring

Pendederan benih ikan lele di jaring apung hanya dilakukan untuk pendederan pertama. Hal ini disebabkan benih yang dipelihara masih berukuran kecil dan belum membutuhkan tempat yang lebih luas.

Keuntungan yang diperoleh jika ikan lele didederkan di dalam jaring sebagai berikut:

Mortalitas atau tingkat kehilangan benih cukup kecil, hanya 15-20% dari total yang dipelihara. Hal ini disebabkan selama pendederan biasanya ikan lele terhindar dari serangan hama.
Teknik pemeliharaan cukup mudah dan praktis. Misalnya pemanenannya cukup dengan mengangkat beberapa bagian atau sudut jaring. Pada saat jaring diangkat, benih-benih ikan lele sudah terkumpul di salah satu sudut jaring, sehingga mudah ditangkap atau dipanen menggunakan sair.

Jaring yang digunakan adalah jaring yang bermata lebih kecil daripada benih ikan lele yang akan dipelihara. Tujuannya agar benih ikan lele tidak kabur atau lobos keluar jaring. Jaring terbuat dari kain trilin berbahan lembut yang biasanya digunakan para petani sebagai tempat untuk penetasan telur ikan mas (hapa). Jaring tempat pendederan benih ikan lele dapat dibeli di toko yang menjual alat-alat perikanan. Jaring tersebut masih berupa kain dalam bentuk lembaran. Karenanya, perlu dijahit terlebih dahulu menggunakan benang nilon agar jaring kuat dan tahan lama. Ukuran jaring disesuaikan dengan jumlah benih ikan lele yang akan didederkan atau disesuaikan dengan luas kolam tempat jaring tersebut akan diletakkan. Bentuk jaring sebaiknya empat persegi panjang dengan ketinggian sekitar 50-60 cm. Di setiap sudut jaring diberi tali untuk mengikatkan jaring ke tiang di kolam, agar jaring terbentang dengan sempurna.

Pemasangan Jaring Tempat Benih Ikan Lele

Sebelum jaring dipasang, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan patok atau tiang untuk mengikat jaring. Untuk jaring yang berukuran 1,5 x 4 x 0,5 m cukup disediakan patok sebanyak 4 buah. Patok yang digunakan berupa bambu atau kayu yang ditancapkan ke dasar kolam dengan jarak antara satu patok dan patok lainnya disesuaikan dengan ukuran jaring. Patok harus ditancapkan tegak lurus dan kokoh agar mampu menahan beban jaring. Penempatan jaring sebaiknya di pinggir atau tepi kolam guna memudahkan pemeliharaan.

Jaring harus dipastikan dalam keadaan bersih dan tidak ada yang berlubang atau bolong akibat bekas gigitan tikus atau binatang lain. Semua tali yang terdapat di sudut-sudut jaring diikat ke tiang atau patok yang telah disiapkan. Ketinggian air di dalam jaring diusahakan hanya 30-50 cm. Hal ini disebabkan ikan lele yang akan dipelihara ukurannya masih kecil dan belum memerlukan air yang dalam.

Penebaran Benih Ikan Lele

Penebaran benih dilakukan setelah jaring terpasang dengan sempurna. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu masih rendah. Maksudnya agar benih ikan lele tidak stres. Benih yang akan dipelihara bisa berasal dari hasil pembenihan sendiri atau dari tempat lain. Jika benih berasal dari hasil kegiatan pembenihan sendiri, saat penebaran tidak perlu lagi dilakukan proses adaptasi, karena kualitas air di tempat tersebut tidak jauh berbeda. Namun, jika benih ikan lele yang akan ditebarkan berasal dari tempat lain, sebelum penebaran perlu dilakukan adaptasi agar benih tidak stres. Proses adaptasi bertujuan untuk menyesuaikan kondisi air, yakni antara air yang ada di dalam wadah pengangkutan dan air yang ada di dalam jaring.

Cara penebaran untuk proses adaptasi benih ikan lele cukup mudah. Benih ikan lele yang masih berada di dalam wadah pengangkutan dibiarkan terapung-apung di atas air selama 5 menit. Selanjutnya ditambahkan air dari kolam jaring ke wadah pengangkutan sedikit demi sedikit. Dengan cara ini diharapkan kualitas air yang ada di dalam wadah pengangkutan tersebut akan sama dengan yang ada di kolam jaring. Kemudian benih ikan lele akan keluar dengan sendirinya dari dalam wadah pengangkutan ke dalam kolam jaring. Jumlah benih ikan lele yang ditebarkan untuk kolam jaring yang berukuran 1,5 x 4 x 0,5 m berdasarkan pengalaman para petani yang telah berhasil, bisa mencapai 10.000-15.000 ekor.

Pemeliharaan Benih Ikan Lele

Kegiatan pemeliharaan merupakan kegiatan inti dari pendederan. Selama pemeliharaan, benih harus diberi pakan tambahan. Karena berada di dalam wadah yang terbatas (kolam jaring), benih ikan lele tidak mendapat pakan alami. Pakan tambahan yang cocok adalah pelet dalam bentuk tepung, sebanyak 3-5% dari berat total benih ikan lele yang dipelihara. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari, yakni pada pagi, sore, dan malam hari. Pakan harus disebarkan merata di seluruh permukaan air. Maksudnya agar semua benih mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pakan.

Pengontrolan kolam jaring harus dilakukan setiap satu minggu sekali. Pengontrolan dimaksudkan untuk menjaga jaring tidak sampai berlubang atau sobek akibat digigit binatang air, seperti kepiting atau binatang lainnya. Jika jaring berlubang, benih yang dipelihara akan kabur atau keluar dari dalam kolam jaring. Dalam hal ini, harus dihindari serangan hama, seperti katak atau ular.

Pemanenan Benih Ikan Lele

Benih ikan lele dipelihara di tempat pendederan selama 2-3 minggu atau disesuaikan dengan kebutuhan. Pemanenan dilakukan dengan mengangkat salah satu bagian jaring. Dengan cara ini benih ikan lele dipastikan akan terkumpul di sisi lain. Selanjutnya benih ikan lele ditangkap menggunakan sair secara hati-hati dan ditampung dalam wadah tertentu atau di dalam jaring berukuran kecil. Benih ikan lele selanjutnya disortir atau dipilih sesuai dengan ukuran badannya. Benih yang berukuran besar dipisahkan dari yang berukuran kecil. Benih yang diambil adalah benih yang berukuran sama, baik panjang maupun besarnya. Benih-benih tersebut kemudian didederkan (pendederan kedua) di kolam atau tempat lain. Jumlah benih yang dipanen atau tingkat kelangsungan hidup rata-rata berkisar 80-90% dari total benih yang dipelihara. Dengan kata lain, mortalitas atau tingkat kematian dan kehilangan benih berkisar 10-20%.

Categories
Perkebunan

Fungsi Bagian Tanaman Bonsai

Organ-organ tanaman yang berada di atas tanah tidak dapat dipisahkan dari organ-organ yang berada di dalam tanah. Akibat pertumbuhan perakaran akan berdampak pada pertumbuhan batang pokok, dahan, dan sebagainya.

Fungsi Bagian Tanaman Bonsai

Fungsi daun pada bonsai

Daun merupakan pusat untuk menghasilkan zat karbohidrat, protein, dan lemak. Ketiga zat ini dibentuk melalui proses fotosintesis. Yang diperlukan dari proses tersebut adalah:

hijau daun yang sehat,
sinar matahari,
udara yang mengandung zat asam arang (CO2), dan
air.

Hijau daun agar dapat berfungsi dengan baik memerlukan nitrogen (N) dalam bentuk zat nitrat yang larut di dalam air. Bila kekurangan zat N, daun kelihatan menguning.

Air dan matahari dalam proses fotosintesis merupakan faktor penentu keberhasilan. Ketiga zat tersebut di atas merupakan zat makanan bagi bagian tanaman di atas tanah maupun untuk perakaran. Tanpa hasil fotosintesis akar akan menderita. Mula-mula busuk dan akhirnya mati. Apabila akar mati, bagian yang di atas tanah secara konsekuen akan ikut mengering.

Selain menghasilkan ketiga zat tersebut, daun masih dapat menghasilkan lain-lain zat, misalnya vitamin B1 yang berfungsi sebagai zat penumbuh akar, berbagai jenis enzim, dan sebagainya.

Khususnya pucuk ranting dapat menghasilkan zat auksin, sejenis hormon nabati yang berfungsi sebagai pendorong pertumbuhan. Hormon auksin ini disalurkan ke arah bawah dan apabila mengumpul pada ketiak-ketiak daun yang ada kuntumnya, maka hormon ini akan berfungsi sebagai zat penghambat tumbuh yang dalam Bahasa Belanda disebut remstof. Remstof ini akan aktif kembali bila produksi auksin dari pucuk terhenti, misalnya karena dipangkas.

Dari uraian yang singkat tersebut dapat disimpulkan, bahwa bila pertumbuhan pucuk senantiasa terhadang sebagai akibat dari pemangkasan, maka tanaman akan sangat kekurangan hormon pertumbuhan. Perakarannya pun terbatas. Namun kehidupannya tetap bertahan karena tanaman masih dapat menghasilkan vitamin B1 dari daun yang sudah tua.

Pengendalian produksi hormon auksin ini merupakan salah satu faktor untuk memperlambat pertumbuhan tanaman sehingga tanaman menjadi kerdil.

Selain itu, daun pada tanaman bonsai juga berfungsi sebagai pembentuk nilai seni, sehingga pada saat melakukan pemangkasan daun juga hurus memperhatikan keindahan tanaman.

Fungsi akar pada bonsai

Fungsi akar yang utama adalah untuk menyerap zat-zat mineral yang larut dalam air dari tanah. Zat-zat mineral ini pada umumnya diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Air yang diserap bersama zat mineral diperlukan untuk fotosintesis. Tanaman yang kekurangan air akan kelihatan layu, terutama bagian-bagian yang masih relatif muda. Zat hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman adalah nitrogen (N), fosfat (P), kalium (K), kalsium (Ca), besi (Fe), magnesium (Mg), Sulfur (S)dan sebagainya. Zat ini harus berada di dalam media dengan jumlah yang memadai. Kekurangan zat-zat tersebut dapat dipenuhi melalui pemupukan. Sewaktu ranting aktif, umumnya akar beristirahat. Maka dalam memindahkan tanaman dari pot yang lama ke pot yang baru sebaiknya sewaktu akar sedang aktif. Karena saat akar aktif tidak ada kuntum yang tumbuh dan ranting-ranting barupun tidak terbentuk.